Rabu, 17 Agustus 2011

BLOG AKAN COBA DIISI LAGI DENGAN TULISAN BARU

para pembaca tercinta :

1. karena beberapa hal, lama sekali blog ini tidak diperbarui
2. dalam waktu dekat akan kami coba mulai isi dengan pengalaman saya tentang
riset mekanisasi maupun bioenergi
3. wassalam, Bambang Prastowo

Senin, 22 Maret 2010

BIOFUEL GENERASI KEDUA DI INDONESIA

BIOFUEL GENERASI KEDUA DARI LIMBAH BIOMASA PERTANIAN MERUPAKAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN DI MASA DEPAN

Komoditas pertanian penghasil bahan bakar nabati (BBN) cukup banyak, seperti tebu, ubikayu, kelapa, kelapa sawit, jarak pagar, sagu dll. Mereka umumnya diolah hasil pokoknya ( nira, CPO, tepung dll) untuk menjadi bioetanol maupun biodiesel. Sebenarnya selain hasil pokoknya tersebut, masih terdapat limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, yang berupa padatan sisa seperti kayu batang, bagas, tandan kosong kelapa sawit, batok kelapa dll. Limbah seperti ini juga banyak diperoleh dari tanaman perkebunan lainnya seperti kayu karet, ranting-ranting kayu dll. Masyarakat sebenarnya sudah banyak yang mengetahui mengenai manfaat tersebut, bahkan tidak sedikit yang sudah mempraktekkannya untuk keperluan rumah tangga, dengan cara membakarnya. Pembakaran limbah padat tersebut memang merupakan teknologi yang sudah lama dipraktekkan di dunia. Masalahnya, teknologi ini dapat mencemari lingkungan karena asapnya maupun menyebabkan pemanasan udara, yang dikritik para ahli lingkungan. Selain itu, pembakaran padatan limbah kayu seperti ini untuk memasak menghasilkan efisiensi penggunaan energi yang sangat rendah, yaitu hanya bisa mencapai efsiensi sekitar di bawah 10 %.
Teknologi pemanfaatan biomasa limbah padat seperti ini di beberapa agroindustri sudah dimanfaatkan, juga dengan cara membakar, tetapi dilakukan di dalam tungku khusus, dan apinya digunakan untuk memanaskan udara yang kemudian dialirkan ke dalam sistem pemindah panas. Sistem ini banyak digunakan dalam pengomprongan tembakau, untuk pengeringan kopi dan kakao dalam sistem pengolahan terpusat, dan dengan tungku khusus sekam untuk pengeringann gabah. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa kajian terhadap tanaman penghasil BBN tidak harus hanya memenfaatkan hasil pokoknya saja, tetapi mencari tanaman yang juga menghasilkan limbah padat cukup banyak. Hasil perhitungan “desk study” berdasarkan beberapa sumber menunjukkan bahwa potensi biomasa pertanian di Indonesia cukup banyak. Pada tahun 2007 potensinya sekitar 441,1 juta Gjoule per tahun dari limbah saja, yaitu dari kelapa sawit, karet, padi, dan tebu. Studi dari Jerman pada 2000 dengan memasukkan jagung, limbah kayu kehutanan dan lainnya menghitung sekitar 470 juta GJoule per tahun. Penulis hitung kembali berdasarkan data terakhir (2007) tanpa memasukkan jagung dan limbah dari kehutanan, potensinya sekitar 441,1 juta Gjoule per tahun. Jika diteruskan perhitungannya, potensi tersebut sama dengan sekitar 18 juta Mwatt. Untuk membandingkan angka tersebut, dapat disimak bahwa untuk keperluan masak rumah tangga pedesaan er hari memerlukan sekitar 17,7 Mjoule/orang/hari. Untuk instalasi sumber tenaga listrik maupun agroindustri sedang besar, pemanfaatan biomasa limbah padat ini biasanya dilakukan dengan cara membakarnya dalam sistem turbin uap, dan uapnya digunakan untuk menggerakkan turbin pengahsil listrik.
Teknologi yang saat ini mulai ndikembangkan di dunia adalah yang disebut dengan teknologi generasi kedua dalam pembuatan biofuel. Semua biomasa yang mengandung lignoselulosa dapat diproses secara termokimia menghasilkan cairan bahan bakar nabati (bioetanol ataupun biodiesel, biofuel to liquid atau BTL)). Biodiesel generasi kedua dibuat dari bahan lignoselulosa dengan perpaduan teknologi gasifikasi dan sintesis Fischer-Tropsch. Pabrik BTL pertama di dunia baru saja diresmikan di Freiberg Jerman 2008 dan mulai beroperasi tanggal 18 April 2008. Di Indonesia BPPT dan Pertamina sudah mulai mencoba risetnya beberapa waktu yang lalu. Teknologi ini diunggulkan memanfaatkan segala biomasa yang mengandung lignoselulosa, sehingga tidak banyak terpengaruh dengan produktivitas tanaman dalam menghasilkan produk pokoknya, sehingga tidak banyak tergantung dengan luas dan produktivitas lahan dan tidak akan mengganggu lingkungan. Selain itu, kita dapat memanfaatkan bahan tanaman non pangan, sehingga tidak mengganggu dan bersaing dengan kebutuhan pangan. Untuk kondisi Indonesia secara umum, riset bisa mulai diarahkan kepada tanaman yang dapat menghasilkan bukan hanya hasil pokoknya yang tinggi, tetapi juga yang dapat menghasilkan biomasa banyak. (Sebagian besar dari naskah judul tulisan ini sudaah dimuat di InfoTek Perkebunan di Bogor).

Potensi Energi Biomasa di Indonesia

Limbah biomasa pertanian dan perkebunan seperti tandan kosong kelapa sawit memiliki kandungan lignoselulosa yang cukup tinggi yang dapat didegradasi menjadi bentuk yang lebih sederhana yaitu glukosa sebagai bahan baku bioetanol. Oleh karena itu, limbah perkebunan terutama tandan kelapa sawit dapat menjadi sumber energi alternaitf, baik diproses menjadi cairan bioetanol maupun proses gasifikasi menajdi gas. Teknologi biofuel generasi baru yang banyak dibahas di dunia saat ini adalah dengan mengembangkan proses konversi-bio menjadi bioetanol dan konversi-termal untuk menghasilkan gas. Yang terakhir ini sebenarnya dapat juga selanjutnya diproses menjadi biodiesel ataupun bioavtur dan sejenisnya. Teknologi ini di dunia dikenal sebagai teknologi biofuel generasi kedua dan sedang banyak dikembangkan bergagai negara. Teknologi ini cukup ramah lingkungan dan tidak mengganggu kebutuhan pangan, karena hanya memanfaatkan limbah biomasa seperti tandan kosong kelapa sawit, jerami, tongkol jagung, dan semacamnya, tanpa mengganggu hasil utama pertanian misalnya gabah, minyak sawit, biji jagung dll). Potensi limbah biomasa hanya dari pertanian sendiri adalah sekitar 441 juta G Joule per tahun atau setara dengan sekitar 18 Juta MWatt. Kementerian ESDM menghitung, seluruh biomasa di Indonesia potensinya sekitar 49 juta MWatt. Semoga potensi ini dapat kita kelola dengan baik, tidak meniru pengalaman pahit potensi gas alam kita.

Senin, 06 April 2009

kincir angin savonious untuk menggerakkan pompa air


Saat ini harga minyak dunia memang sedang "murah"/"rendah", tapi upaya memanfaatkan energi selain dari bahan bakar minyak asal fosil atau BBM (solar, bensin, minyak tanah dll) tetap perlu diteruskan, karena BBM tersebut diperhitungkan tetap akan habis. Belasan tahun lalu telah dicoba kincir tipe savonious yang digerakkan oleh tenaga angin untuk menggerakkan pompa jenis piston (seperti pompa tangan di rumah-rumah). Daun kincir ini bentuknya seperti drum dibelah, tapi entuk persisnya adalah setengah lingkaran yang agak condong. Lebih cocok sebenarnya berbentuk seperti simbul hati ("love") yang dibelah dua (lihat gambar). Bentuk seperti ini dimaksudkan agar dapat menangkap angin lebih baik dibandingkan bentuk setengah lingkaran. Putaran tiang kincir yang vertikal kemudian diubah jadi tenaga untuk menggerakkan pompa air piston melalui gir dan puli serta sabuk ("belt") untuk kemudian menggerakkan pompa air. Teknologi kincir sebenarnya sudah lama dikembangkan di belanda, dan bahkan di daerah pertambakan garam petani kita sudah memasang kincir, hanya tipenya tipe baling-baling, yang kemudian untuk menggerakan ember air untuk menimba air laut ke ladang garamnya.

Jenis alat dan mesin pertanian (alintan) seperti ini jadinya cenderung hanya akan cocok untuk daerah yang hembusan anginnya cukup. Hembusan angin hampir di setiap tempat di Indonesia sebenarnya cukup untuk memutar kincir ini. Yang jadi masalah adalah keajegan ("continuity") dari hembusan tersebut. Selain daerah pantai atau daerah yang anginnya cukup kencang, hembusan angin cukup memedai biasanya pada saat pergantian musim (maret, april, mei atau september, oktober, nopember), atau jika harian waktunya biasanya sore hari. Hal ini sebenarnya sangat beragam, tergantung kepada musim dan waktu serta lokasinya.

Kincir tipe savonious dari tenaga angin untuk menggerakkan pompa air ini duu terpasang dan beroperasi di halaman Balittan Maros Sulsel (sekarang Balitsereal), di Moumere, Naibonat Kupang dan sempat di pasang juga proyek lahan sejuta hektar. Di Jakarta sekitar tahun 60'an pernah terlihat di daerah Kemayoran terpasang kincir ti baling-baling juga. Saat ini dapat dilihat kincir angin tipe baling-baling untuk membangkitkan tenaga listrik di pulau Nusa Penida, tentu dengan teknologi yang lebih canggih.

Selasa, 17 Februari 2009

serba serbi : kereta krl di indonesia dan di eropa




saya tinggal di jakarta, tapi kantorku sekarang di bogor, jadi kalo "bosan" naik mobil seringkali saya naik kereta krl. kalo pagi kereta jurusan bogor agak "longgar", karena memang kalo pagi lebih banyak penumpang yang ke jakarta dari bogor, depok dan sktrnya. tapi aku milih kereta ekonomi yang ber ac. percayalah, kereta ini lumayan enak. yang jadi masalah adalah setiba di stasiun bogor, wah . . . . kotor, semrawut, dan yang menyedihkan, ... penumpang harus "manjat-2" kalo mau naik atau turun dari kereta .... nggak percaya ? .... lihat tuh gambar jepretanku (atas : aku lagi nggaya di frankfurt houbanhoft, bawah : stasiun bogor).


aku beberapa kali ke eropa,, terutama jerman, sebenarnya nggak kalah2 amat sih, cuma karena mereka penumpangnya sepi, rapi, dan ... peduli, jadi memang nikmat kalo naik kereta. saya yakin kiata lama2 seperti itu. lha gimana nggak rapi keretanya, la mbayarnya karcis saja untuk jarak yang kira-2 sama bogor-jakarta mbayar setara dengan sekitar 75 ribu rupiah, bayangkan karcis bogor-jakarta cuma 1000 rupiah (kereta ekonomi), 6000 rupiah (kereta ekonomi ber ac) atau 9000 ribu rupiah kereta expres ac dan 11 000 rupiah untuk pakuan ac.


ada kelebihan lain kereta krl di indonesia, kita dihibur para musikus yang piawai, sambil makan tahu dan minum dari "kafe berjalan" di kereta (ekonomi), dan kalo anda ingat akherat ... kasih sedekah 500 atau seribu untuk saudara kita yang kurang beruntung. jadi kalo karcisnya 1000 rupiah, pengeluaran lain-2nya seperti ini bisa sampai 2-4 ribu rupiah. asyik tho !


Rabu, 11 Februari 2009

pompa injak

Sekitar akhir tahun 80 an (1988) di Balai Penelitian Tanaman Pangan Maros (Balittan Maros) Sulawesi Selatan pernah dikembangkan pompa aisederhana yang digerakkan dengan kaki, dengan cara diinjak-injak. Pompa tersebut cocok untuk daerah yang sumber airnya tidak terlalu dalam (2-6 meter). Di daerah persawahan pantai barat Sulsel memang tersedia sumber air sumur yang tidak terlalu dalam, sehingga cocok menggunakan pompa ini. Debit air ini dari pompa ini bisa sampai 0,3-0,4 liter per detik. Petani palawija bisa memanfaatkan pompa ini untuk suplesi tanamannya. Di daerah jogja selatan barat atau wates selatan mungkin bisa juga memanfaaatkan pompa ini. Di daerah ini mereka biasanya pakai timba dan gembor untuk mengairi palawijanya. Oleh karena pompa ini digerakkan dengan cara diinjak-injak, penelitinya menyebutnya POMPA INJAK. Orang Philipina atau Afrika menyebutnya dengan "treadle pump".

Jumat, 30 Januari 2009

tunjangan nggak jadi naik, tiap peneliti dikasih 50 juta untuk riset ?

di koran, pak kk (sebutan akrab pak kusmayanto kadiman/menristek versi beliau sendiri) sempat nyebut setiap peneliti disediakan dana 50 juta rupiah untuk risetnya tahun 2009. saya termasuk yang ikut (wajib) ngusulkan, usulan nggak boleh dobel, dan harus ada sinergy dengan kegiatan dan peneliti dari perguruan tinggi (karena dananya dari dikti ?). di sinilah tantangannya. sinergy gampang diucapkan, sulit dilakukan, apalagi dengan waktu perencanaan yang (cuma/kurang) satu minggu. di sini juga akan teruji, para peneliti mana yang networkingnya sudah mapan. peneliti yang pergaulan "bebas"nya bagus dengan para peneliti lain di uiversitas, akan dengan cepat mendapatkan encon/partner peneliti dari perguruan tinggi, termasuk topik2 kegiatan penelitiannya. penulis alami ... dalam semalam coba dan berhasil kontak 4 penelti dari ugm dan itb..... ya ... lalu saya usulkan. tapi cara seperti ini jangan dipertahankan, dari dulu kok perencanaan model ndadak-ndadak. peneliti yang sudah mapan memang bisa melakukan, tapi yang yunior akan keponthal-ponthal... ketinggalan. selain itu, hasil usulannya mungkin akan banyak mengandung kelemahan. bagaimanapun kita patut hargai upaya "kompensasi" nggak jadi naiknya tunjangan peneliti dengan memberi kegiatan yang katanya ada "honornya" ini ... lumayan ...